Lagi-lagi bertemu dengan teman-teman lama dan setelah ngobrol sana-sini, seorang teman nyeletuk, “ kamu tuh gaul banget deh” . Reaksi saya? Terdiam dan bertanya apa bener sebegitu gaulkah saya?. Sebenarnya kata-kata gaul itu seringkali dilontarkan pada saya mulai jaman kuliah dulu. Saya kurang tahu alasannya kenapa, tapi kata teman dekat saya karena saya ‘berisik’, hahaha!. Jadi sebenarnya menjadi gaul dan eksis itu ada tujuannya. Setidaknya bagi saya.
Awalnya adalah sebuah buku ‘Blue Jean: What Young Women Are Thinking, Saying and Doing’ yang berisi kumpulan tulisan perempuan muda tentang berbagai hal,mulai dari soal aktivisme, keberdayaan diri , feminism, pelecehan seksual, tubuh sampai ke toleransi dan keberagaman. Hebat deh, pokoknya! Sejak itu saya punya mimpi untuk berbuat yang sama, yaitu mengenalkan apa itu feminisme, berdaya dan menjadi diri sendiri kepada perempuan-perempuan muda.
Apa yang saya lakukan untuk mimpi melakukan mimpi tersebut? Belajar mengenai isu perempuan, isu gender dan feminism dan mengetahui cabang-cabangnya. Misalnya berbicara tentang isu perempuan dan kemiskinan ada beberapa turunan isu di dalamnya misalnya bagaimana media menggambarkan perempuan dan kemiskinan, feminisasi kemiskinan dan lain sebagainya. Hal lain misalnya isu perempuan dan budaya pop, kesehatan reproduksi yang dari berbagai isu yang saya sebutkan itu dapat dipastikan kita semua mengalaminya (sayangnya jarang ada yang menuliskannya).
Setelah pengetahuan tentang isu perempuan, gender dan feminism saya rasa cukup, mulailah pendekatan terhadap kelompok perempuan muda dimulai, entry point isunya bukan isu perempuan melainkan pendidikan lingkungan untuk remaja (yang melibatkan anak sekolah menengah ke atas). Pendekatan apa yang saya lakukan? Selain memposisikan sebagai peer dalam kegiatan keseharian mereka, dan sebagai fasilitator dalam meningkatan pengetahuan mereka tentang lingkungan perkotaan, sedikit demi sedikit pengetahuan mengenai girl power, apa itu patriarki dan bagaimana menjadi sendiri diintegrasikan ke dalam proses fasilitasi.
Hasilnya? Belum ada indikator yang bisa saya temukan, namun bagi saya yang penting adalah menjadi diri sendiri dan tahu hak-nya sebagai perempuan (muda), jika mengalami ketidaknyamanan dalam lingkungan- harus berbicara. Dari tiga perempuan muda yang menjadi ‘mitra’ , yang secara keseluruhan berhasil menurut indikator sederhana yang saya buat itu hanya satu yang kemudian memenuhi criteria tersebut, mulai ketidaknyamanan atas lingkungan, menegaskan identitas sebagai anak punk dan identitasnya sebagai perempuan muda dalam relasinya dengan laki-laki. Iya, hanya satu yang bisa menurut saya berhasil-dengan kurun waktu pendekatan kurang lebih satu tahun dan intens.
Dari proses untuk mencapai mimpi tersebut, otomatis saya harus menyesuaikan diri. Gaul dalam konteks perempuan muda? Saya lakukan, baca majalah remaja, mengenali obrolan mereka (yang kebanyakan tentang cinta) , bahasa gaul, gaya dan penampilan trendi mulai saya adopsi sebagai bagian dari diri saya. Maka terciptalah identitas ‘gaul’ tersebut . Tidak hanya penampilan yang gaul, tapi isu juga.
Isu yang saya definisikan ‘gaul’ misalnya hal-hal yang terkait dengan budaya populer, yaitu media dan gaya hidup. Ya, saya menulis beberapa hal tentang gaya hidup di sini misalnya. Beberapa tulisan tentang media dan gaya hidup ditulis dengan perspektif perempuan dengan bumbu feminis dan kacamata gender. Silahkan dilihat beberapa tulisan disini.
Proses yang saya lakukan adalah bagian untuk mewujudkan mimpi bahwa perempuan muda bisa mendokumentasikan pengalaman-pengalaman perempuan muda, semakin banyak bersuara, perubahan bukanlah tidak mungkin meski perjuangannya masih panjang. Jadi jangan heran ya kalau saya gaul dan tukang nongkrong *lho* :D
Sumber : http://ayokesini.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
comment yang banyak